Membangun Integritas di Sektor Publik

29

Dalam Bab ini, akan dibahas dua hal utama yaitu Sistem Integritas Nasional dan Zona Integritas. Integritas pada diri seseorang adalah kesesuaian antara ucapan yang dikatakan seseorang dengan tindakan yang dilakukannya. Ucapan-ucapan yang dikatakannya harus sesuai dengan etika dan nilai-nilai moral. Seseorang yang memiliki integritas akan menjalani hidup dengan memegang teguh dan menjalankan prinsip,kode etik dan nilai-nilai moral serta selalu mempertahankan konsistensi antara ucapan dengan perilakunya serta nilai-nilai moral yang dimilikinya.

Apa yang dimaksud dengan integritas? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga seseorang akan dapat memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, integritas dalam diri seseorang berarti kepribadian yang jujur, berani, bijaksana dan bertanggung jawab atas perilaku dan tindakannya. Integritas akan dapat menjaga seseorang agar tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan ketika melakukan kegiatan tertentu.

Terdapat beberapa perilaku yang menunjukkan seseorang yang memiliki integritas. Perilaku-perilaku ini antara lain :

  1. Jujur. Perilaku jujur yang dimaksud adalah tidak berbohong. Seseorang yang memiliki integritas akan selalu mengatakan hal-hal yang benar kepada orang lain. Tidak hanya mengucapkannya saja, ia juga juga dapat melakukan hal-hal yang benar sesuai dengan ucapannya tersebut. Apabila orang tidak melakukan hal-hal benar yang diucapkannya, berarti orang tersebut tidak memiliki integritas. Misalnya seseorang yang berkata bahwa korupsi adalah hal yang buruk namun ternyata dirinya melakukan korupsi berarti ia tidak memiliki integritas. Dalam lingkungan kerja, sikap jujur dapat ditunjukkan dengan menyajikan fakta-fakta apa adanya, tidak melakukan manipulasi fakta dan bersedia mengakui kesalahan apabila dia melakukannya. Kejujuran harus dilakukan secara konsisten dan terus menerus karena apabila seseorang pernah berperilaku tidak jujur satu kali, maka kredibilitas dan kepercayaan orang lain terhadapnya akan menurun dan ia akan mengalami kesulitan untuk memperoleh kembali kepercayaan orang lain.
  1. Menjaga martabat, berperilaku sesuai dengan etika dan tidak melakukan hal-hal yang tercela. Dalam usahanya untuk menjaga martabat dan tidak melakukan hal-hal tercela, seseorang harus melakukan memiliki keteguhan hati untuk selalu melakukan sesuatu yang benar dan sesuai dengan etika walaupun lingkungannya menganggap apa yang dia lakukan sebagai sesuatu yang aneh dan tidak biasa.Dalam menjaga martabat, seseorang pada umumnya akan menghadapi godaan dan tekanan yang berasal dari lingkungannya untuk melakukan hal-hal yang tidak benar. Oleh karena itu dia harus mampu mengatakan tidak kepada orang lain, atas sesuatu yang diyakininya merupakan hal yang tercela dan tidak benar.

Integritas bagi aparat pemerintah adalah suatu hal yang fundamental. Aparat yang memiliki integritas akan mengutamakan pengabdian kepada negara, mengesampingkan kepentingan pribadi serta mampu menahan diri dari melakukan praktek-praktek korupsi. Untuk mengetahui bagaimanakah contoh karakter seseorang yang memiliki integritas tinggi, berikut ini adalah kutipan biografi tokoh Baharuddin Lopa (Alm.) dari majalah Integrito Volume 07 bulan April 2009 yang diterbitkan oleh KPK.

Seorang mantan  ajudannya, ketika  Lopa menjabat  sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi  Selatan, pernah pula  bertutur. Katanya,  suatu hari selepas  kunjungan kerja di  sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, pria kelahir an Mandar, 27 Agustus 1935 tersebut mendapati meteran bensin mobil dinasnya bergerak ke arah ‘F’, hampir penuh. Lopa merasa heran, karena seingatnya, ketika tiba di tujuan sesaat sebelumnya, meteran masih menggantung di bawah, bahkan nyaris mendekati tanda ‘E’.

Lopa pun bertanya perihal bensin tersebut. Dari jawaban sang ajudan, Lopa akhirnya mengerti kalau ternyata bensin yang bertambah tersebut adalah pemberian dari pejabat setempat. Tanpa membuang-buang waktu Lopa memerintahkan sang ajudan untuk kembali ke tempat semula. Ditemuinya sang pejabat setempat itu, dan memintanya menyedot kembali bensin yang sudah diberikannya tadi. Alasan Lopa ketika itu sederhana namun rasional. Katanya, “Saya punya uang jalan untuk beli bensin, dan itu harus saya pakai.”

Cerita yang lain kembali terjadi di Makassar. Kali itu, ketika dia baru saja menjejakkan kaki di Bandara Hasanuddin. Saat itu wartawan memang menunggu, hendak mewawancarainya. Lantaran jadwal kegiatannya sangat padat, maka guna mengefisienkan waktu, akhirnya Lopa sepakat ikut mobil wartawan sambil diwawancarai. Nah, di sela-sela wawancara itulah, Lopa tiba-tiba mengatakan, “Ini ada uang taksi saya dari negara. Kamu harus ambil karena saya naik mobilmu.”

Mendengar itu, tentu saja sang wartawan menolak. Namun apa yang terjadi? Lopa mendadak minta kendaraan yang ditumpanginya berhenti saat itu juga. Selanjutnya, dia berdiri di pinggir jalan, menunggu taksi, dan menyetopnya. Masih terngiang-ngiang di telinga sang wartawan, ucapan Lopa sebelum turun. “Silakan terus, saya naik taksi.”

Perilaku Baharuddin Lopa (Alm) di atas menunjukkan dua aspek integritas yaitu aspek kejujuran dimana dia selalu bersikap jujur dan tidak ingin menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya serta aspek menjaga martabat, berperilaku etis dan menjauhi tindakan tercela meskipun hal tersebut dianggap aneh oleh orang-orang lain.

Dalam mewujudkan good governance, maka faktor sumber daya manusia yaitu para aparatur sipil negara yang berkualitas merupakan faktor paling penting. Salah satu unsur yang menunjukkan seberapa baik kualitas aparat sipil negara dalam menjalankan tugasnya adalah seberapa baik aparatur negara dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai integritas di dalam diri mereka masing-masing. Integritas dalam diri aparat pemerintah akan menyebar ke seluruh lingkungan instansi pemerintah sehingga nilai-nilai integritas akan dapat menjadi budaya organisasi di dalam instansi tersebut.

Integritas sangat penting untuk mewujudkan reformasi birokrasi. Kesuksesan reformasi birokrasi ditentukan oleh kualitas pelayanan publik oleh aparat pemerintah. Pelayanan publik yang berkualitas akan dapat tercapai ketika aparatur pemerintah dapat menerapkan nilai-nilai integritas dan profesionalisme. Di samping itu, penerapan nilai-nilai integritas yang dimulai dari level pimpinan hingga level bawah akan dapat mendorong terciptanya prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparansi di instansi tersebut.

Dalam menerapkan integritas dalam melaksanakan pekerjaannya, aparat pemerintah harus memiliki perilaku-perilaku berikut ini :

  1. Memiliki konsistensi dalam berkata dan bertindak.
  2. Bersikap jujur terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan.
  3. Berani dan tegas dalam bertindak dan mengambil keputusan.
  4. Disiplin dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.
BAGIKAN